Minggu, 04 Maret 2012

ri klasik India adalah istilah baru yang relatif payung untuk berbagai bentuk seni dikodifikasikan berakar pada Natya , suci Hindu teater musikal gaya, teori yang dapat ditelusuri kembali ke Natya Shastra dari Bharata Muni (400 SM).

Contents Isi

[hide]
//

[ edit ] Definition [ sunting ] Definisi

These are: Ini adalah:
  • Dances performed inside the sanctum of the temple according to the rituals were called Agama Nartanam . Tarian dilakukan di dalam bilik candi sesuai dengan ritual yang disebut Agama Nartanam . Natya Shastra classifies this type of dance form as margi , or the soul-liberating dance, unlike the desi (purely entertaining) forms. Natya Shastra mengklasifikasikan jenis bentuk tarian sebagai margi , atau tari-membebaskan jiwa, tidak seperti desi (murni menghibur) bentuk.
  • Dances performed in royal courts to the accompaniment of classical music were called Carnatakam . Tarian dilakukan di pengadilan kerajaan dengan iringan musik klasik disebut Carnatakam . This was an intellectual art form. Ini merupakan bentuk seni intelektual.
  • Darbari Aattam form of dance appealed more to the commoners and it educated them about their religion, culture and social life.the kings of that time used to make der daughtres learn dance. Aattam Darbari bentuk tari mengajukan banding lebih untuk rakyat jelata dan pendidikan mereka tentang agama mereka, budaya dan raja-raja life.the sosial waktu itu digunakan untuk membuat daughtres der belajar tarian.
These dances were performed outside the temple precincts in the courtyards. Tarian ini dilakukan di luar daerah sekitar candi di halaman. Both Carnatakam and Darbari Aattam in particular were predominantly desi forms. Kedua Carnatakam dan Darbari Aattam pada khususnya yang dominan desi bentuk.
For lack of any better equivalents in the European culture, the British colonial authorities called any performing art forms found in India as “Indian dance”. Untuk tidak adanya setara lebih baik dalam budaya Eropa, penguasa kolonial Inggris disebut apapun bentuk seni pertunjukan yang ditemukan di India sebagai “tari India”. Even though the art of Natya includes nritta , or dance proper, Natya has never been limited to dancing and includes singing, abhinaya ( mime acting). Meskipun seni Natya termasuk nritta , atau tari yang tepat, Natya tidak pernah terbatas pada menari dan menyanyi termasuk, abhinaya ( mime bertindak). These features are common to all the Indian classical styles. Fitur-fitur yang umum untuk semua gaya klasik India. In the margi form Nritta is composed of karanas , while the desi nritta consists mainly of adavus . Dalam margi bentuk Nritta terdiri dari karanas , sedangkan desi nritta sebagian besar terdiri dari adavus .
The term “classical” (Sanscr. “Shastriya”) was introduced by Sangeet Natak Akademi to denote the Natya Shastra -based performing art styles. Istilah “klasik” (Sanscr. “Shastriya”) diperkenalkan oleh Sangeet Natak Akademi untuk menunjukkan Natya Shastra berbasis gaya seni pertunjukan. A very important feature of Indian classical dances is the use of the mudra or hand gestures by the artists as a short-hand sign language to narrate a story and to demonstrate certain concepts such as objects, weather, nature and emotion. Sebuah fitur yang sangat penting dari tarian klasik India adalah penggunaan mudra atau isyarat tangan oleh seniman sebagai tangan pendek bahasa isyarat untuk menceritakan cerita dan untuk menunjukkan konsep-konsep tertentu seperti objek, cuaca, alam dan emosi. Many classical dances include facial expressions as an integral part of the dance form. Banyak tarian klasik termasuk ekspresi wajah sebagai bagian integral dari bentuk tarian.

[ edit ] Eight classical dances [ sunting ] Delapan tarian klasik

Sangeet Natak Akademi currently confers classical status on eight Indian dance styles: [ 1 ] [ 2 ] Sangeet Natak Akademi klasik saat ini menganugerahkan status pada delapan gaya tari India: [1] [2]
Dance form Tari bentuk State(s) of origin Negara (s) Asal
Bharatanatyam Bharatanatyam Tamil Nadu Tamil Nadu
Kathak Kathak North Indian States Negara India Utara
Kathakali Kathakali Kerala Kerala
Kuchipudi Kuchipudi Andhra Pradesh Andhra Pradesh
Manipuri Manipuri Manipur Manipur
Mohiniyattam Mohiniyattam Kerala Kerala
Odissi Odissi Orissa Orissa
Sattriya Sattriya Assam Assam
Other Art Dances yet to be conferred as Classical Dances, whose theories can also be traced back to the Natya Shastra are- Lainnya Seni Tarian belum dianugerahkan sebagai Tarian Klasik, teori-teori yang juga dapat ditelusuri kembali ke Natya Shastra adalah-
  1. Gaudiya Nritya – Bengali Art Dance Gaudiya Nritya – Bengali Seni Tari
  2. Andhra Natyam – Telugu Art Dance Natyam Andhra – Telugu Seni Tari
  3. Vilasini Nrityam/Natyam – Telugu Art Dance Vilasini Nrityam / Natyam – Telugu Seni Tari
Out of the eight styles, the only two temple dance styles that have their origin in Natya Shastra and are prescribed by the Agamas are Bharatanatyam and Odissi . Dari delapan gaya, hanya dua tari candi gaya yang asal-usul mereka dalam Natya Shastra dan diresepkan oleh Agamas adalah Bharatanatyam dan Odissi . These two most faithfully adhere to the Natya Shastra but currently do not include Vaachikaabhinaya (dialog acts), although some styles of Bharatanatyam, such as Melattur style , prescribe the lip movements indicating Vaachikaabhinaya. Kedua yang paling setia mematuhi Natya Shastra tetapi saat ini tidak mencakup Vaachikaabhinaya (tindakan dialog), meskipun beberapa gaya Bharatanatyam, seperti gaya Melattur , resep gerakan bibir menunjukkan Vaachikaabhinaya.
Kuchipudi , which also prescribes the lip movements indicating Vaachikaabhinaya, and Mohiniyattam are relatively recent Darbari Aatam forms, just as Kathakali , and two eastern Indian styles, Manipuri and Sattriya , that are quite similar. Kuchipudi , yang juga mengatur gerakan bibir yang menunjukkan Vaachikaabhinaya, dan Mohiniyattam relatif baru Darbari Aatam bentuk, seperti Kathakali , dan dua gaya India timur, Manipuri dan Sattriya , yang sangat mirip.
Kathak originated as a temple dance. Kathak berasal sebagai tarian kuil. Some believe it evolved from Lord Krishna’s raas lilas . Beberapa percaya berevolusi dari Tuhan Krishna lilas Raas . The style gradually changed during the Mughal period under the influence of Persian dance , a major change being straight knees instead of the bent knees used in most other Indian classical forms. Gaya bertahap berubah selama Mughal periode di bawah pengaruh tari Persia , perubahan besar sedang lutut lurus, bukan menekuk lutut digunakan dalam kebanyakan bentuk klasik India. Intricate footwork and spins, as well as abhinaya , are the highlights of Kathak . gerak kaki yang rumit dan berputar, serta abhinaya , adalah highlights dari Kathak .
Currently, Sangeet Natak Akademi does not consider the recently reconstructed dance styles of Andhra Pradesh such as Andhra Natyam and Vilasini Natyam as “classical”. Bharatanrithyam , despite being the one most closely following Natya Shastra ‘s precepts, is considered as a variety of Bharatanatyam. Saat ini, Sangeet Natak Akademi tidak mempertimbangkan tari gaya baru direkonstruksi Andhra Pradesh seperti Andhra Natyam dan Vilasini Natyam sebagai “klasik”. Bharatanrithyam , meskipun yang paling dekat berikut Natya Shastra sila s ‘, dianggap sebagai berbagai Bharatanatyam .

Serampang Duabelas: Tari Tradisional Melayu Kesultanan Serdang, Sumatra Utara

April 25, 2009

Ketika di hati sepasang pemuda muncul benih-benih cinta
Ketika di hati sepasang pemuda muncul benih-benih cinta
A. Asal-usul
Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960 (http://www.wisatamelayu.com/id; http://cetak.kompas.com). Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari (www.wisatamelayu.com/id; http://cetak.kompas.com; Sinar, 2009: 48).
Sedikitnya ada dua alasan mengapa nama Tari Pulau Sari diganti Serampang Duabelas. Pertama, nama Pulau Sari kurang tepat karena tarian ini bertempo cepat (quick step). Menurut Tengku Mira Sinar, nama tarian yang diawali kata “pulau” biasanya bertempo rumba, seperti Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau Putri. Sedangkan Tari Serampang Duabelas memiliki gerakan bertempo cepat seperti Tari Serampang Laut. Berdasarkan hal tersebut, Tari Pulau Sari lebih tepat disebut Tari Serampang Duabelas. Nama duabelas sendiri berarti tarian dengan gerakan tercepat di antara lagu yang bernama serampang (Sinar, 2009: 48). Kedua, penamaan Tari Serampang Duabelas merujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, yaitu: pertemuan pertama, cinta meresap, memendam cinta, menggila mabuk kepayang, isyarat tanda cinta, balasan isyarat, menduga, masih belum percaya, jawaban, pinang-meminang, mengantar pengantin, dan pertemuan kasih (Sinar, 2009: 49-52; www.wisatamelayu.com/id). Penjelasan tentang ragam gerak Tari Serampang Duabelas akan dibahas kemudian.
Menurut Tengku Mira Sinar, tarian ini merupakan hasil perpaduan gerak antara tarian Portugis dan Melayu Serdang. Pengaruh Portugis tersebut dapat dilihat pada keindahan gerak tarinya dan kedinamisan irama musik pengiringnya.
Seni Budaya Portugis memang mempengaruhi bangsa Melayu, terlihat dari gerak tari tradisionalnya (Folklore) dan irama musik tari yang dinamis, dapat kita lihat dari tarian Serampang XII yang iramanya tari lagu dua. Namun kecepatannya (2/4) digandakan, gerakan kaki yang melompat-lompat dan lenggok badan serta tangan yang lincah persis seperti tarian Portugis. Sebagai seorang penari tentu saya takjub dengan adanya kaitan budaya antara kedua negara ini, dan sebagai puteri Melayu Serdang, dalam khayalan saya bayangkan ketika guru Sauti menari di hadapan Sultan Sulaiman di Istana Kota Galuh Perbaungan. Sungguh betapa cerdas beliau dengan imajinasinya menggabungkan gerak tari Portugis dan Melayu Serdang, sehingga tercipta tari Serampang XII yang terkenal di seluruh dunia itu (Tengku Mira Sinar, www.waspada.co.id).
Tari Serampang Duabelas berkisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan teruna. Oleh karena menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini biasanya dimainkan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan. Namun demikian, pada awal perkembangannya tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki karena kondisi masyarakat pada waktu itu melarang perempuan tampil di depan umum, apalagi memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya (www.wisatamelayu.com/id).
Diperbolehkannya perempuan memainkan Tari Serampang Duabelas ternyata berpengaruh positif terhadap perkembangan tarian ini. Serampang Duabelas tidak hanya berkembang dan dikenal oleh masyarakat di wilayah Kesultanan Serdang, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke Maluku. Bahkan, tarian ini sering dipentaskan di manca negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Hongkong (www.wisatamelayu.com/id).
Keberadaan Tari Serampang Duabelas yang semakin mendunia ternyata memantik kegelisahan sebagian masyarakat Serdang Bedagai pada khususnya, dan Sumatra Utara pada umumnya. Kekhawatiran tersebut muncul karena dua hal. Pertama, persebaran Tari Serampang Duabelas ke berbagai daerah dan negara tidak diimbangi dengan transformasi kualitasnya. Artinya, transformasi Tari Serampang Duabelas terjadi hanya pada bentuknya saja, bukan kepada tekniknya. Menurut Jose Rizal Firdaus (Kompas, 1 Juli 2008), salah satu yang mengkhawatirkan dari perkembangan Tari Serampang Duabelas adalah pendangkalan dalam hal teknik menari. Hal ini disebabkan oleh orang-orang dari luar daerah Deli Serdang yang memainkan tarian ini tidak didukung oleh penguasaan terhadap teknik yang benar. Akibatnya, terjadi pergeseran teknik tari dari aslinya.
Kedua, minimnya kepedulian generasi muda kepada Tari Serampang Duabelas. Meluasnya persebaran tarian ini ke berbagai daerah ternyata tidak diimbangi dengan meningkatnya kecintaan generasi muda Serdang Bedagai terhadap tarian ini. Kondisi ini tidak saja dapat menyebabkan Tari Serampang Duabelas hilang karena tidak ada penerusnya, tapi juga bisa hilang karena diklaim oleh pihak lain (Kompas, 1 Juli 2008).
Kedua fenomena tersebut harus disikapi secara cepat dan tepat agar Tari Serampang Duabelas tidak saja lestari, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Serdang Bedagai pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Sedikitnya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan Tari Serampang Duabelas. Pertama, menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai aset daerah. Artinya, pemerintah harus melakukan proteksi agar tarian ini tidak diklaim oleh pihak lain, yaitu dengan mematenkan hak ciptanya.
Kedua, mendekatkan Tari Serampang Duabelas kepada anak-anak dan remaja. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai salah satu materi pengajaran muatan lokal. Dengan menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai materi muatan lokal, maka anak-anak sejak dini diajarkan untuk mengetahui sejarah keberadaannya dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap geraknya. Dengan cara ini, maka kita telah berusaha menanamkan kepada generasi muda rasa cinta, bangga, dan rasa memiliki terhadap Tari Serampang Duabelas.
Ketiga, menyelenggarakan perlombaan rutin Tari Serampang Duabelas. Menyelenggarakan perlombaan tari artinya mencari orang yang mempunyai kemampuan terbaik dalam menari. Dalam perlombaan, hanya yang terbaiklah yang akan menjadi juara. Untuk menjadi yang terbaik, setiap orang harus belajar dengan sungguh-sungguh agar mempunyai kemampuan menari yang lebih baik dari orang lain. Melalui strategi ini, setiap orang secara halus “dipaksa” untuk mempelajari Tari Serampang Duabelas secara baik dan benar. Jika cara ini berjalan, maka ada dua hal yang dicapai sekaligus, yaitu lestarinya Tari Serampang Duabelas pada satu sisi, dan terjaganya kualitas teknik Tari Serampang Duabelas pada sisi yang lain.
Keempat, memberikan jaminan kesejahteraan hidup para pelestarinya. Para stake holder, khususnya pemerintah, perlu membuat terobosan agar para pelestari Tari Serampang Duabelas, dan juga para pelestari warisan budaya lainnya, dapat hidup secara salayak. Para pelestari kebudayaan kebudayaan tentu akan terus bekerja dan mengabdikan hidupnya untuk melestarikan warisan budaya jika apa yang dilakukan tidak saja secara normatif menjaga kelestarian budaya, tetapi juga secara praktis menjadi penopang keberlangsungan hidupnya. Seringkali warisan budaya dibiarkan terlantar karena “tidak memberikan” manfaat kepada pemiliknya.

belly dancing

  • Belly Dancing
Istilah "Belly dance" adalah keliru karena setiap bagian tubuh, terlibat dalam tarian. Bagian tubuh yang paling digunakan adalah pinggul. Tarian ini berasal dari Timur Tengah. Bagi saya tidak ada yang melakukannya lebih baik daripada Shakira.

line dancing

  • Line dancing
Sebuah tarian koreografi tari baris dengan urutan berulang dari langkah-langkah di mana sekelompok orang tari dalam satu atau lebih baris atau baris tanpa memperhatikan jenis kelamin individu, semua menghadap ke arah yang sama, dan melaksanakan langkah-langkah pada waktu yang sama.

irish dance

  • Irish Dance
Irish Dance adalah jenis pertunjukan tari di Irlandia dari tarian tradisional Irlandia. Hal ini biasanya dilakukan dalam kelompok tetapi kadang dilakukan sebagai tari solo, biasanya ditandai dengan tubuh bagian atas kaku dan cepat dan tepat gerakan kaki.

tari wayang

Tari Wayang

Tgl. Update :Kamis, 21 April 2011
Daerah :Jawa Barat
Lihat:3056
 7  3 Share3

Di antara sekian banyaknya kesenian atau tarian yang ada di Jawa Barat,tari wayang adalah salah satunya. Pada awalnya tari wayang tampil dalam kesenian Wayang Orang, yaitu suatu bentuk teater daerah yang tempat pementasan dan perlengkapannnya sudah mengikuti teater modern Barat. Misalnya pentasnya yang berbentuk proscenium (satu arah) serta menggunakan layar depan, layar belakang dan seben (penyekat samping). Kemudian pentas itu pun menggunakan setting yang merupakan layar belakang atau layar sampingyang bergambar dan disesuaikan dengan cerita serta menggunakan tata cahaya
dan tata suara seperti pentas modern Barat.
Cerita yang dipentaskan dalam kesenian Wayang Orang adalah cerita wayang, tetapi dimainkan oleh para pemeran yang harus menguasai gerak tari wayang, suara para pemeran pun harus disesuaikan dengan peran wayang yang diperankannya. Setiap tokoh tokoh wayang memiliki patokan tersendiri mengenai gaya bicaranya dan geraknya. Dan ini harus sesuai dengan nada-nada tertentu sehingga tidaklah mudah menjadi pemain wayang orang. Pemain Wayang orang harus pandai menari serta mempunyai perbendaharaan gerakan wayang bagi kelengkapan peranannya.
Seiring dengan berjalanya waktu dan bergantinya jaman, para penggarap kesenian Wayang Orang kemudian mengkemas dalam bentuk tarian. Puncak kejayaan tari Wayang yakni pada masa berakhirnya penjajahan Jepang. Pada masa itu, banyak bermunculan perkumpulan kesenian wayang orang yang mengajarkan tari Wayang. Saat ini ada beberapa daerah di Jawa Barat yang masih tetap melestarikan tari Wayang tersebut antara lain Bogor, Garut, Sumedang, dan Bandung. Masing-masing daerah mempunyaimotif gerak yang spesifik.
Biasanya tari wayang dibawakan oleh pria dan Wanita. Tarian senantiasa dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa dengan karakter tokoh yang berbeda-beda. Berdasarkan penyajiannya, tari Wayang dikelompokkan menjadi beberapa bagian, antara lain :
- Tari Tunggal
- Tari Berpasangan,
- Tari Massal.
Karakter suatu tarian dapat dilihat dari berbagai aspek yang mendukung terwujudnya suatu tarian di antaranya, dari gerakan yang dibawakan, tata rias, tata busana serta gending pengiringnya. Dan karakternya pun mempunyai tingkatan atau jenis karakter yang berbeda, misalnya Satria lungguh untuk tokoh Arjuna, Abimanyu. Satria ladak lungguh untuk tokoh Arayana, Nakula dan Sadewa. Sementara karakter tari wanita, putri lungguh untuk tokoh Subadra, dan Arimbi, serta putri ladak untuk tokoh Srikandi.
Di dalam setiap tarian, musik pengiring merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Begitu pula pada tari Wayang, musik atau biasa disebut gending atau karawitan sangat berperan terutama untuk penegas gerakan, pembawa suasana, pendukung ungkapan karakter penokohan. Alat Gending atau karawitan yang dipakai sama dengan alat yang dipakai untuk mengiringi tari Keurseus.

sejarah tari serimpi

Sejarah Tari Serimpi

gmbr tari serimpi
Suatu jenis tari klasik dari daerah Yogyakarta yang selalu dibawakan oleh 4 penari, karena kata srimpi adalah sinonim bilangan 4. Hanya pada Srimpi Renggowati penarinya ada 5 orang. Menurut Dr. Priyono nama serimpi dikaitkan ke akar kata “impi” atau mimpi. Menyaksikan tarian lemah gemulai sepanjang 3/4 hingga 1 jam itu sepertinya orang dibawa ke alam lain, alam mimpi.
Menurut Kanjeng Brongtodiningrat, komposisi penari Serimpi melambangkan empat mata angin atau empat unsur dari dunia yaitu :
1. Grama ( api)
2. Angin ( Udara)
3. Toya (air)
4. Bumi ( Tanah)
Sebagai tari klasik istana di samping bedhaya, serimpi hidup di lingkungan istana Yogyakarta. Serimpi merupakan seni yang adhiluhung serta dianggap pusaka Kraton. Tema yang ditampilkan pada tari Serimpi sebenarnya sama dengan tema pada tari Bedhaya Sanga, yaitu menggambarkan pertikaian antara dua hal yang bertentangan antara baik dengan  buruk, antara benar dan salah antara akal manusia dan nafsu manusia.